Kebebasan Lebih Penting dari Kekayaan


Kompas.com — Rasanya semakin banyak hal yang membuktikan kebenaran kalimat bijak yang berbunyi “uang tidak bisa membeli segalanya”. Dari hasil penelitian di 63 negara terungkap bahwa orang yang memiliki kebebasan cenderung lebih sehat dan bahagia dibandingkan dengan orang yang memiliki uang banyak.
Itu sebabnya, para ahli mengatakan, untuk mengurangi gejala psikologis negatif, mungkin memberi kesempatan pada tiap individu untuk bebas mengaktualisasi dirinya jauh lebih penting. Demikian kesimpulan studi yang dimuat dalamJournal of Personality and Social Psychology.
“Temuan ini memberikan kita wawasan yang baru bahwa masalah kesehatan di tingkat masyarakat tidak selalu berkaitan dengan uang,” kata peneliti dari Victoria University of Wellington di Selandia Baru.
Dalam penelitiannya, Ronald Fischer dan Diana Boer, yang berprofesi sebagai psikolog, melakukan tiga tes psikologi yang berbeda kepada 420.599 orang dari 63 negara yang berpartisipasi dalam penelitian ini.
Singkatnya, mereka menemukan bahwa kekayaan hanya berdampak pada kesenangan pribadi seseorang saja, tetapi tidak menambah kesehatan atau kebahagiaan.
“Dari hasil tes tersebut, kami mengamati sebuah temuan yang konsisten dan kuat bahwa nilai-nilai sosial dari individualisme adalah prediktor terbaik dari kesehatan,” katanya.

Pengelola dan pengunjung sejumlah toko-toko buku di Tanjungbalai Karimun, Rabu (19/10/2011) sekitar pukul 14:30 WIB dibuat kaget dengan kedatangan Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Tanjungbalai Karimun, Hanjaya Candra SH beserta beberapa orang anggotanya. Hanjaya dan orang-orangnya melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait peredaran 9 judul buku terlarang di toko-toko buku tersebut.
Sidak tersebut diantaranya dilakukan di Toko Buku Salemba depan kantor Imigrasi, Kolong, TB Bintaro samping Swalayan Indo A Yani, Jack Agency depan BNI, TB Al Kautsar Pasar Sri Karimun.
Hanjaya Candra SH, Kasi Intel Kejari Tanjungbalai Karimun kepada wartawan mengatakan ada 9 judul buku yang dicekal peredarannya di Indonesia termasuk di Kabupaten Karimun oleh Jaksa Muda Intelijen (Jamintel) Kejagung RI. Hal itu dikarenakan isi buku tersebut dinilai beraliran kerasa dan menyimpang dari ajaran agama tertentu.
Selain itu, buku tersebut dikhawatirkan akan cendrung menciptakan bentuk-bentuk pemikiran terorisme bagi pembacanya.
“Ke sembilan judul buku tersebut dikhawatirkan membuat pembacanya terprovokasi mengikuti teori-teori yang dipaparkan,” kata Hanjaya Candra usai sidak.
Daftar Buku Dalam Pengawasan Kejari:
1. Tafsir Fi Zhilalil Quran Jilid 2 karangan Sayyid Quthb, Diterjemahkan oleh As’ad Yasin-Muahotob Hamzah, Terbitan Gema Insani Depok-Jakarta 2001.
2. Loyalitas dan Anti Loyalitas dalam Islam karangan Muhammad bin Sa’id Al Qathani diterjemahkan oleh Salahudin bin Abu Sayid terbitan PT Era Adi Citra Intermedia-Solo 2009.
3. Ikrar Perjuangan Islam karangan DR Najih Ibrahim diterjemahkan oleh Abu Ayub Ansyori terbitan Pustaka Al Alaq dan Al Qowam-Solo 2009
4. Khilafah Islamiyah-Suatu Realita bukan Khayalan karangan Prof DR Syeikh Yusuf Al Qaradawi diterjemahkan oleh Ahmad Nuryadi, terbitan PT Fikahati Aneka-Jakarta 2000.
5. Kado Istimewa untuk Sang Mujahid karangan Syakh Dr Abdullah Azzam, diterjemahkan oleh Abdul Fattan Al Bourie, terbitan PT Pustaka Al Alaq-Solo 2008.
6. Catatan dari Penjara – Untuk Mengamalkan dan Menegakan Dinul Islam karangan Abu Bakar Ba’asyir, terbitan Mushaf, Depok Jawa Barat, 2008.
7. Bagaimana Membangun Kembali Negara Khilafah karangan Syabab Hizbut Tahrir Inggris, diterjemahkan oleh M Ramdhan Adi, terbitan Pustaka Thariqul Izzah, Bogor 2008.
8. Syariat Islam-Solusi Universal karangan Prof Wahbah Az Zuhali, diterjemahkan oleh Ridwan Yahya LC, terbitan Pustaka Nawaitu, Jakarta Timur 2004.
9. Visi Politik Gerakan Jihad karangan Hazim Al Madanidan Abu Mus’ab As Suri, diterjemahkan oleh Luqman Hakim Lc dan Umarul Faruq Lc, terbitan Jazera, Solo 2010. (Pz/trib)

Keputusan Kejaksaan Agung yang memutuskan pelarangan buku Sayyid Quthb tentu mengagetkan banyak pihak. Sayyid Quthb sendiri adalah ulama kesohor hampir di seluruh kelompok gerakan Islam. Ia juga ideolog ikhwan yang terkenal masyhur tidak saja di bidang pemikiran namun juga di lapangan jihad.
Bahkan menurut Herry Nurdi, jurnalis muslim, dari tiap mujahid yang turun ke medan jihad, ketika ditanya apa alasannya, salah satunya menyebut karena telah membaca buku Sayyid Quthb. Subhanallah
Beda lagi dengan Nuim Hidayat, penulis buku Sayyid Quthb: Biografi dan Kejernihan Pemikirannya, yang diangkat dari tesis Masternya di Universitas Indonesia, memberikan beberapa alasan mengapa dirinya tertarik untuk menulis perjalanan hidup Sayyid Quthb dan karya-karyanya.
Pertama, seiring dengan meluasnya kampanye terorisme yang disponsori Amerika, ternyata nama Sayyid Quthb selalui dirujuk oleh ilmuwan politik Barat ketika membahas Syaikh Usamah bin Ladin, misalnya disebut-sebuh oleh John L. Esposito (ilmuwan politik Islam asal AS), sebagai “guru” atau tokoh idola dari Dr. Syaikh Abdullah Azzam. Sedangkan Azzam adalah guru daru Usamah bin Ladin.
“Memang bila dibaca buku-buku Syaikh Abdullah Azzam, terutama dalam buku monumentalnya Tarbiyah Jihadiyah akan didapati bagaiman Dr. Azzam sering mengambil teladan-teladan dakwah dan pergerakan Sayyid Quthb dalam perjuangan Islam,” kata Nuim yang menulis tesis Program Studi Kajian Timur tengah & Islam, Universitas Indonesia dengan judul ‘Pemikiran Jihad Menurut Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur’an’.
Kedua, Sayyid Quthb adalah tokoh ikhwan yang paling awal dan banyak karyanya serta dianggap sebagai pelanjut Syaikh Hassan Al Banna. Ketika itu Al-Banna yang berumu pendek 43 tahun (1906-1949), tampaknya tidak sempat menuliskan secara terperinci ide-ide ikhwan, karena keburu syahid diberondong peluru dimobilnya oleh tentara Dinasi Faruk, Mesir. Setelah kembali dari Amerika tahun 1951, Sayyid Quthb langsung memutuskan untuk masuk Ikhwanul Muslimin. Quthb kemudian mempunyai pengaruh yang besar di kalangan ikhwan.
Suatu ketika Gemal Abdul Nasser – yang kemudian mengkhianati Quthb – mengajak Sayyid Quthb dan ikhwan untuk bersama-sama menggulingkan Raja Faruk. Naser dan Quthb berpisah, karena Quthb menginginkan Negara Islam, sedangkan Nasser menginginkan Negara sosialis.
Stigma Ilmuwan Barat
Nuim Hidayat mengaku curiga, banyak ilmuwan politik atau penulis Barat membicarakan Sayyid Quthb dengan sudut pandang negatif. Esposito saja, yang sering dianggap moderat terhadap Islam, menyatakan Quthb adalah tokoh Islam militan dan radikal. Hal yang sama dikatakan oleh beberapa pakar politik Barat atau pro Barat lain, diantaranya: Leonard Binder, Ahmad S. Mousalli, dan Bassam Tibi. Beberapa dari mereka menyebut Quthb sebagai perintis gerakan Islam radikal atau Islam fundamentalis.
“Saya melihat, ilmuwan-ilmuwan Barat itu sudah membenci seorang tokoh, sehingga berupaya untuk mencari-cari kelemahannya. Karena itu, pada buku-buku ilmuwan Barat, banyak didapati hal-hal sinis ketika membicarakan Sayyid Quthb. Hampir-hampir tidak didapatkan butir-butir pemikiran yang cemerlang dari Quthb. Buku yang sering dikritik ilmuwan Barat itu adalah yang berkisar konsep hakimiyah (kedaulatan), jihad dan revolusi, yang ditulis didalam Ma’alim fith-Thariq dan Fi Zhilalil Qur’an. Sayangnya, ada ulama seperti Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, yang juga ikut-ikutan mengecam keras Sayyd Quthb,” jelas Nuim.
Karena banyak penulis Barat yang benci pada Quthb itulah, mendorong Nuim untuk membaca karya-karyanya. Dosen STID M. Natsir itu berkeyakinan, bila mereka terus menerus membuat stigma dan menjauhkan masyarakat muslim dari karya-karya Quthb, tentu ada magnet yang besar pada karya beliau.
“Dan benar saja, setelah membaca banyak karya Quthb, saya melihat ide-idenya yang menggugah, cemerlang dan autentik dalam pemikiran Islam. Meski ada kata-kata emosional di dalam karya-karya Quthb, tetapi ’emosi kata’ pada buku Quthb itu tetap rasional dan dalam bingkai Al-Qur’an dan Sunah. Bagi kalangan muda Islam, membaca karya Quthb dapat menumbuhkan pemikiran yang tajam dan semangat menyala dalam memperjuangkan Islam,” tandas Nuim.
Dan benar saja. Pasca media mulai menurunkan berita pelarangan buku Sayyid Quthb oleh Kejaksaan Agung, hampir di seluruh jejaring sosial dan beberapa milis, umat muslim justru penasaran dan memburu karya-karya monumental tersebut. (pz/voa/kazi)

Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Sabtu, 8 Oktober 2011 | 13:39 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s