GENERASI CENTANG PERENANG


Wahai kekasih hatiku,Telah kulewatkan cerita duka bersamamu, Sepanjang waktu,Kulewatkan cinta dan pengabdianku,Menempati ruang dari sudut hatimu, terdalam,Dan mengebu-gebu,Wahai idaman zamanku,Kualirkan cinta murniku, Kedalam relung hatimu, Agar kau tampak tersenyum Dalam sedih dan duka lara,Kubisikkan kata termanis Menghembus daun telingamu, Hingga kau tak beranjak pergi Terlena, Sampai bunga merekah Dan buah meranum dari pohon-pohon Hatimu,
Wahai generasiku,Tak pernah putus benang harapan Dijulurkan mengejar angin Membawa pergi keistana Kebahagiaan, Kali ini kau bak calon penganten yang dipingit, Bulan purnama mengintipmu Dicelah-celah tangisnya Berderai, Seakan tak rela kau dipersunting zaman Membawamu pergi mengembara Lepas dari akar tunggangmu, Menindih jalan berliku menuju Duniamu yang lebih lebar dan leluasa, Sampai detik ini Ketika kutuliskan puisi ini,Tak mampu ku gambarkan Betapa berat membiarkanmu pergi Dengan senjata Tanpa amunisi, Ditengah ganasnya perang global Melawan penistaan Harga diri ,Pengkerdilan rasa kemanusiaan Menghadapi kebuasan hidonesme Melawan keangkuhanmu Sendiri, Agama menjadi bualan bagi sebagian, Hukum Tuhan dijadikan kedok Merauk keuntungan,Sumpah serapah Menjadi hiasan tak terelakkan Dalam keseharian, Dusta dan kebohongan adalah biasa-biasa saja Na’udzubillahi,
Wahai cerianya kali ini, Ku berbangga kepadamu Menatap sekilas ragamu Kokoh dan tegap Anggun dan mempesona Dalam senyum manismu Tersimpan harapan besar Menghapuskan kegalauan Ditengah sumir duniamu, Dunia yang centang perentang Menakar kesedihan dimana-mana Tentang narkoba, Sex bebas, Kekerasan Dan setumpuk stigma Memiriskan hati, Membuat bulu kuduku berdiri,Wahai bangganya kami kali ini Dalam batas waktu perjalanan Dipersimpangan masa Kau berkumpul disini Menikmati, Hari,Bulan, Tahun, Melewati berbagai musim, Bersama para pahlawan Tanpa pernah gentar Menghadapi bara api Masa remajamu yang membakar, Tak bergeming melewati Gemuruh teriakanmu Merasa kesal, Demi sebuah harapan Generasi masa depan Tangguh melawan pemakzulan Agama kemanusiaan dan keadilan.
Wahai kekasih hatiku, Ketika kegalauan perasaannku Menuliskan puisi ini, Dari titik nol Dalam ruang kosong Dihatimu,Telah kami isi Huruf, Kata, Kalimat, Deretan angka-angka, mutiara pengetahuan Tak ternilai, Mengurai sebuah kesadaran Membuatmu berbeda Dari generasi centang perentang Menari ditengah penderitaan, Kebebasan, Dan duka lara, Kau mutiaraku Terangkat lewat keringat Jerih payah Tanpa pamrih, Kau gagah perkasa,Tegap dan lantang suarmu Membahana Membelah dunia, Hitam dan putih Kentara baik dan buruknya Kau adalah hakimnya, Kelak ketika kerinduanTak terbalas dengan perjumpaan Ketika yang kuajarkan telah kaulupakan, Kuminta satu Lihat kami dengan mata bathinmu Terasah dengan kelembutan dan ketulusan, Enyahkan kesombongan Membuatmu buta mata Buta hati, Seakan kau bukan generasi kami, Telah dipatrikan pengetahuan Dalam darah dan dagingmu Hingga kau tak bisa mengatakan aku Tanpa kami, Kau darah dagingku Akan beranjak pergi Menyusuri perjalanan Memenuhi harapan Wujudkan mimpi Bersamamu kami lebih berarti

One thought on “GENERASI CENTANG PERENANG

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s