BELAJAR DARI USIA “LANJUT”


Tulisan ini adalah patahan kalimat yang melompat-lompat mengejar makna yang menyentuh dalam gambaran diskriptif, lari sana-lari sini mengajak para pembaca membangun empati dalam tatahan sanubari yang mendalam. Bukan sekedar bahasa tutur yang sengaja bikin beda, agar dapat perhatian dan memasuki relung untuk mencuri kesadaran. Tapi karena memang sangat menyentuh dan melecut pribadi yang masih tergolong gagah tapi hampir “mati rasa” ketimbang seorang Kakek yang beberapa hari lalu, telah menancapkan belati kedikjayaannya dalam sekujur raga dan jiwa yang membuat sepanjang langkah pulang melukiskan kenangan seorang kakek yang tuan renta .

Untuk ukuran cara berpikir “wajar” kakek tua dengan jenggot yang sudah memutih, keriput muka dan tangan tampak kentara, tak layak dibiarkan menggelar dagangan untuk mencari sebungkus nasi hanya untuk bertahan menikmati dunia yang mungkin tinggal menghitung hari, bulan, atau tahun, dimana dipundaknya masih pula menanggung sandang pangan keluarganya, karena logika tak pantas menakar usia. Terlebih lagi dagangan yang dijajakan tak cukup menjanjikan laba, atau melipat gandakan harga, seperti prilaku dagang pada umumnya. Dagangannya hanya kacang tanah “sangan” dengan dibungkus plastik seharga ratusan perak. Namun semangat yang tersirat dalam gaya bicaranya yang masih nyaring dan matanya yang masih awas telah membalikkan logika berpikir “aku “tentang beliau. Tegar, sehat, optimistis, selalu punya harapan terhadap yang dikerjakannya, konsisten, sabar dan pantang dikasihani.

Subhanallah, sungguh berbeda dari asumsi-asumsi masyarakat yang selama ini berkembang dan telah mencekoki masyarakat, bahkan telah melahirkan kultur baru bagi sebagian masyarakat tentang orang tua. Orang tua atau lansia selalu dikondisikan dalam bingkai ketidak berdayaan, harus dilayani, kadang dipaksa menerima kondisi yang diciptakan oleh putra-putrinya, tanpa pernah menghargai pikirannya, dan mendengarkan pertimbangannya, sungguh “ironi”. inikah fakta manusia dalam menyikapi orang tua yang melahirkannya hingga menjadi gagah dan pada akhirnya harus “menggagahi”.
Fakta ini telah menjadi jalan pintas sebagian masyarakat dengan dengan dalih agar orang tuanya lebih terurus, lebih fokus, ini, itu dst.. . padahal tak jarang dari mereka sengaja melepaskan diri dari kesibukan memngurus orang tua, karena dirasa mengganggu.

Ketegaran sang kakek dalam manghadapi perjalanan hidupnya yang telah memasuki usia senja, seperti matahari yang akan pulang menyonsong malam daLam gelap gulita. Baginya tahun dalam pejalanan umurnya tak ubahnya seperti perubahan musim yang akan selalu berganti, dan usia senjanya adalah musim berikutnya. Penyempitan dunia karena faktor teknologi yang mengkerutkannya hanyalah dongengan yang mengingatkan cerita tentang kesaktian Ken Arok Melibas Tunggul Ametung karen cinta terlarang. Baginya ketegaran kaki dan telapaknya yang berkapal adalah kendaraan yang tak pernah lapuk karena kepanasan, atau medan yang berlubang dan terjal. Jauhnya jarak adalah kenikmatan yang menghantarkannya pada ketangguhan jasadnya melawan usia yang menggrogotinya. Subhanallah

Alam telah mengujinya menjadi kakek yang perkasa tanpa terpengaruh dengan propaganda teknologi yang hampir saja melahirkan Tuhan baru dalam ideologi manusia. Alam adalah sahabat sejatinya yang telah telah mendidiknya menjadi perkasa namun tetap bersahaja, pantang dikasihani, mandiri dan mampu bertahan hidup walau dalam kondisi yang menurut kasat mata sangat memprihatinkan. Rumah tak banyak memberikan perlindungan baginya, perjalanannya dari satu daerah kedaerah yang lain adalah rumah dan dunianya yang tak kan pernah membuatnya bosan untuk berhenti berjalan. sampai usianya yang lanjut sa’at ini.

Usia lanjut sang kakek dan kegigihannya untuk bertahan hidup dan menghidupi orang lain adalah pelajaran yang membangunkan kita dari “mati rasa”. Tidak banyak yang bisa kita banggakan dari kemampuan kita, bahkan mungkin kita tidak punya kemanpuan kecuali merekayasa orang laing mengagumi kelemahan kita, membanggakan keterbatasan kita, memaksakan kehendak agar mereka tunduk kepada kita. Sampai kapan kita harus bertindak atas nama topeng yang telah megaapalkan wajah kita. Kenapa kesombongan kadang kala menjadi senjata untuk membahagiakan perasaan kita. Kita harus banyak belajar dari perjalan usia yang telah kita lewati, harus banyak menginsafi ketidak sadaran prilaku yang telah menuntun kepada persoalan kotornya hati dan akal kita. Kejujuran adalah belati yang akan mengiris kenistaan berkeping-keping hingga tak kan pernah mampu meruntuhkan dinding hati yang kokoh. Seperti seorang kakek yang pantang dikasihani dan memamfatkan usianya yang lanjut memaksa orang lain mengasihani. Subhanallah,. QM

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s