MEMBANGUN RASA BERDIKARI ANAK


Bagi sebagian orang tua, sibuk dipagi hari menyiapkan segala hal yang berkaitan dengan anak adalah hal yang biasa, sejak dari mebangunkan tidur, mengantarkan kekamar mandi, menyiapkan buku sekolahnya, menyiapkan makan, menyuapinya kadang kala, menyiapkan sepatunya, mengambilkan tasnya dan sampai mengantarnya kesekolah. Belum lagi bagi orang tua yang juga bekerja diluar rumah, selain mempersiapkan untuk anak-anak, harus juga mempersipkan untuk diri sendiri, seperti menyiapkan baju kantor, tugas-tugas kantor, peralatan, memanasi kendaraan, sarapan pagi dan lain-lain. Sungguh sangat luar biasa tugas orang tua, terlebih ibu, dimana aktifitas ini akan berlangsung terus menerus, bahkan mungkin sepanjang hayat.

Aktifitas orang tua seperti yang digambarkan diatas tidak akan bisa dihindari, tetapi bisa dibagi kepada seluruh keluarga yang ada dirumah, terutama adalah anak-anak. pembagian tugas tentu saja sesuai dengan tingkatan umur, kemampuan pisik, dan faktor kesulitan dari tugas. misalnya, anak-anak diminta dan dikondisikan untuk bangun pagi, mandi sendiri, menyiapakan kebutuhannya sendiri, dari buku sekolah, menyiapakan baju, kaos kaki dan sepatu, kemudian dibiasakan sarapan pagi sendiri, minum susu, dan berilah uang saku secukupnya. Pengkondisian seperti ini bagi sebagian anak sangatlah berat pada awal-awal, bahkan bagi sebagian orang tua. Karena merasa tidak tega bila anak-anak diberikan tugas, bahkan sebagian mereka lebih memilah pembantu untuk melakukan pekerjaan anak.

Tidak terlau sulit sebenarnya bagi orang yang berkecukupan untuk mempekerjakan asisten khusus untuk membantu anak, dalam menyelesaikan tugas-tugas dirumah. Namun demikian tidak semua tugas rumah diserahkan kepada asisten atau pembantu rumah tangga, khusunya tugas-tugas yang akan membiasakan anak untuk bisa survife menjalani hidupnya sendiri dikemudian hari. Seperti mandi sendiri, gosok gigi, memakai pakaian, makan,minum susu, memakai sepatu, dan mempersiapkan peralatan sekolah. Ini sangat penting disadari oleh orang tua agar anak tidak terlampau manja denga keadaan yang kemuadian bisa mengakibatkan, taidak mandiri, gampang menyerah, tidak percaya diri, minder dan semua sifat yang diakibatkan karena kehilangan kepercayaan dirinya

Pembiasaan seperi diatas sejatinya dimulai sejak dini, sejak kemampuan motorik anak mulai kelihatan, seperti gerakan mengambil, belajar merangkak, belajar berdiri, belajar berjalan, dan gerakan yang lain. Orang tua berperan untuk melatih kemampuan ini, agar bisa berkembang dengan maksimal, tanpa harus terlalu jauh khawatir terhadap keamanan dan keselamatan anak, karena akan melahirkan sikap melindungi yang sangat berlebihan (over protectif ) bagi anak. Sikap ini tentu saja tidak baik bagi pertumbuhan anak dari sisi perkembangan psikologisnya, terutama kemampuan berdikari anak. Seperti sikap ketergantungan bagi anak terhadap orang tua, sikap anak yang tidak mau melakukan apapun tanpa batuan orang tua, sikap tanggung jawab yang rendah, sikap seenaknya terhadap orang lain dan sebagainya.

Bila pada usia awal belum maksimal mengkondisikan anak, dengan hal-hal yang berguna bagi mereka dikemudian hari, pada usia TK, SD, adalah masa emas untuk membentuk kebiasaan mereka agar seperti yang diinginkan. Dari pada pada usia-usia setelah itu, yaitu sekolah SMP, SMA, akan terasa lebih sulit untuk dikondisikan dengan pembiasaan yang lebih baik. walaupun masih sangat mungkin untuk membangun kebiasaan yang lebih baik.

Oleh karena itu sejak awal orang tua harus menyadari semua dampak yang akan ditimbulkan dari sikap, perlakuan, pengkondisian, dan semua hal yang diberikan pada anak. Anak adalah makhluk Tuhan yang sangat sensitif dan sangat gampang dibentuk, tergantung dari semua kondisi yang diciptkan oleh orang tua, lingkungan dan tempat pendidikan mereka. Mereka harus mendapatkan hal yang seimbang antara kebutuhan pisik dan psikologis, mana yng dilarang dan mana yang dibolehkan, mana yang butuh ketegasan dan mana yang harus pleksibel. Termasuk yang teramat penting bagaimana orang tua membangun komunikasi dengan anak, memberikann rasa aman, nyaman, kasih sayang, dan memahami betul kelebihan dan kelemahannya. Agar anak selalu berada dalam peroses pendidikan yang benar, sesuai dengan harapan orang tuanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s