KITA HARUS BERUBAH


Judul ini sangat populer ditelinga kita, kita harus berubah. Kalimat yang menggugah seperti ini sering kali kita dengar, baik dikancah dunia politik, pendidikan, agama, bahkan kalimat ini menjadi jargon untuk mnumbuhkan semangat terhadap terjadinya sebuah perubahan pada diri seseorang, atau menggugah dukungan terhadap misi tertentu.Ini  menarik sekali untuk kita kaji, karena berubah bukan sesuatu yang mudah untuk dilakuakan . Butuh perjuangan yang tak kenal lelah, waktu, bahkan kadang nyawa menjadi taruahnnya untuk mewujudkan sebuah perubahan.  Oleh karena itu kita harus mecari formula efektif dan strategi perubahan agar apa yang selama ini diteriaakkan dan dikampanyakan tentang perubahan, menjadi kenyataan, bukan lagi mimpi yang menghiasi tidur kita. Menjadi ironis lagi, bila jargon perubahan ini adalah logika hipokritis yang ditujukan mendapatkan dukungan kondisional untuk sebuah ambisi pribadi belaka, tanpa berpikir lebih jauh untuk orang-ornag disekelilingnya.

Menjadi soal kemudian, apa yang menjadi tolak ukur dari sebuah perubahan?, pertanyaan ini sering dilupakan oleh beberapa unsur yang terlibat dalam peroses perubahan. Seakan perubahan hanya persoalan berganti corak, warna, pisik, atau hal-hal lain yang lebih bersifat materiil, walaupun ini juga bagian dari sebuah perubahan. namun lebih jauh dan berarti bila perubahan itu terjadi tidak hanya pada unsur materil, tapi juga pada unsur subtansial yang berdampak lebih panjang dan menetap.

Perubahan yang terjadi pada apapun akan selalu berdampak dua hal;  yang pertama adalah perubahan yang tanpak dan kasat mata, langsung terasa dampaknya secara indrawi. Seperti orang yang lapar kemudian makan, maka berubahlah menjadi kenyang, orang haus kemudian minum, maka rasa dahaga akan hilang, berganti segar. Kedua perubahan yang tidak terasa langsung tetapi bisa terjadi beberapa sa’at kemudian, bahkan mungkin tidak dirasakan sendiri oleh yang melakukan perubahan , namun orang lain yang merasakannya.  Contoh yang bisa kita lihat adalah pendidikan dan pembelajaran yang diberikan oleh guru kepada muridnya, perubahan akan disadari dampaknya beberapa waku kemudian, baik hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun, tergantung kepada potensi dan daya serap masing-masing. Perubahan yan berarti tidak dirasakan langsung sa’at itu, baik oleh yang melakukan perubahan, atau yang menerima perubahan. Tapi cepat atu lambat perubahan itu pasti terjadi. Paralel dengan hal tersebut perubahan juga harus pada pada tataran materiil dan subtansial, tataran materiil adalah yang bersifat fisik dan bisa langsung dirasakan. Sedangkan pada tataran subtansial adalah perubhan cara fikir, yang membutuhkan waktu untuk merasakan dampaknya. Dua-duanya harus tergarap dengan baik dan terarah sehingga perubahan yang dinginkan akan terjadi.

Untuk membuat perubahan menjadi efektif sesuai dengan misi yang kita inginkan perlu memperhatikan konsep perubahan yang dibangun oleh Islam. Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, kemudian orang yang berada disekitar kita, yaitu keluarga kita, anak-anak kita, family kita, dan baru kita merambah objek yang lebih jauh dari lingkungan terdekat kita. Islam melihat perubahan itu sesuatu yang harus dilakukan, dari prilaku yang tidak baik menjadi baik. Model perubahan dengan pola seperti ini harus menjadi cara kita melakukan perubahan. karena inilah yang akan menjadi dasar dari setiap perubahan yang kita lakukan.

Pendekatan agama dalam konsepsi praktis yang bisa dilakukan dalam rangka melakukan perubahan, perlu memperhatikan beberapa hal. Pertama adalah niat (motivasi ) untuk berubah, ini sangat penting dan menjadi dasar dari setiap aktifitas yang kita lakukan.  Kedua perubahan itu harus dimulai dari sendiri sendiri, karena apapun yang dikakukan harus melalui uji coba dan pembuktian, sehingga pengalaman yang dialami menjdi pelajaran yang efektif kepada orang lain. Ketiga Harus yakin dengan misi perubahan yang dilakukan, sehingga tidak ragu-ragu dalam menyampaikan dan mengajak orang lain mengarungi bahtera perubahan. Keempat Perubahan harus dilakukan ndengan kesadaran tinggi yang dalam bahasa agama ikhlas, artinya sudah sangat paham dengan resiko yang akan dihadapi, dan tidak akan berubah dengan tantangan apapun yang menghadang, karena sudah menjadi keyakinan yang harus diperjuangkan. Kelima Perubahan harus bisa dipertanggung jawabkan, dan bisa dinilai oleh orang lain sebagi sebuah perubahan yang baik dimasa-masa yang akan datang. Keenam perubahan yang dilakukan tidak melanngar aturan agama, undang-undang negara yang sudah disepakati sebagi ketentuan bersama, adat kebiasaan yang dinilai sudah baik, dan tidak melampaui batas kemampuan manusia. Ketujuh perubahan harus logis dan terbuka kepada semua orang, sehingga bisa dinilai dan direspon sebagai sebuah perubahan yang dirasakan.

Perubahan adalah kepastian yang akan terjadi, dikehendaki  atau tidak. Perubahan adalah sunnatullah yang menjadi bagian dari penciptaan, namun demikian perubahan yang maslahat, kearah yang lebih baik, terhindar dari hal-hal yang merusak adalah harapan dari setiap kita yang menghendaki sebuah perubahan. Anda mjenginginkan perubahan lakukan sekarang..!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s