EDUKASI DAN AKTUALISASI


DSCN7037Edukasi adalah proses yang dilakukan oleh seseoarang untuk menemukan jati dirinya, yang dilakukan dengan mengamati dan belajar yang kemudian melahirkan tindakan dan prilaku. Edukasi sebenarnya tidak jauh berbeda dari belajar yang dikembangkan oleh aliran behaviorisme dalam psikologi. Hanya istilah ini sering dimaknai dan diinterpretasikan berbeda dari learning yang bermakna belajar. Dan istilah ini seringkali digunakan dalam pendekatan pendidikan yang  tentu maknanya lebih dari sekedar belajar.

Dalam teori belajar dan prilaku sebuah tindakan akan didapatkan dari sebuah aktifitas pengamatan yang dikondisikan dan direkayasa dengan tujuan hasil yang sudah ditentukan dan bisa diukur secara logis dan ilmiyah. Dalam belajar ada hubungan erat antara penguat, baik yang positif atau  nigatif yang terjadi setelah tindakan dilakukan, atau setelah menjadi sebuah prilaku kongkrit yang bisa dilihat dengan kasat mata. Stimulan yang terjadi sebelum prilaku muncul sangat mempengaruhi tujuan yang diharapakan. Ini artinya prilaku seseoarang harus selalu bisa diukur dan selalu pulu diberikan penguat dan stimulasi yang diciptakan  sedimikian rupa  sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.

Dengan demikian kita harus menciptakan dunia sendiri yang sesuai dengan kehendak kita dan mengkondisikannya sesuai dengan tujuan kita. Sama halnya pula bahwa kehidupan ini adalah tempat berexprimen dalam sebuah laboratorium dunia yang sangat komplek, betapa rumitnya bila itu dibayangkan. Itu semua ranah teoritis ilmiyah yang tidak secara saklek bisa diterapkan, dan memang tidak ada keharusan untuk menerapkan dalam kehidupan kita. Tetapi tidak ada yang memungkiri produk ilmiyah bisa lebih dipertanggungjawabkan keefektifannya dari banyak sisi.

Edukasi dalam pendekatan pendidikan lebih kepada pemeberian kondisi dan pengaruh kepada seseorang agar bisa menciptakan prilaku sepontan dalam jangka waktu yang lama sesuai dengan harapan diri sendiri dan masyarakat. Harapan itu diukur dengan kesepakatan-kesepakatan formal yang disebut hukum, dan kesepakatn-kesepakatan yang tidak formal tetapi menjadi kebiasaan yang dianggap baik berlaku di masyarakat yang disebut adat. inilah prilaku yang diharapkan dari edukasi yang sepadan dengan kata learning dalam pandangan psikologi behaviorisme.

Hal lain yang juga menjadi tekanan dalam edukasi adalah prilaku yang dihasilkan berupa kemampuan yang bisa diaktualisasikan dalam tiga ranah, yaitu prilaku intlektual, afektif dan psikomotorik. ini paralel dengan unsur yang harus dipenuhi oleh seseorang agar bisa menjalankan hidup ini dengan harapan, yaitu kemampuan intlektual, spiritual dan moral yang menjadi bgagian terpenting dlam pendidikan. Tentu ini berbeda dari learning yang hanya menekankan pada sebuah perubahan prilaku, tanpa membahas lebih dalam terjadinya prilaku selanjutnya.

Pendekatan agama dalam perspektif edukasi juga berbeda secara kualitatif, ini tentu karena hasil yang akan dicapai dari sebuah edukasi meliputi hal-hal yang bisa diukur secara skalatis, sekaligus yang tidak bisa dirumuskan dengan alat ukur skalatis. Hasil-hasil tersebut adalah prilaku yang diharapkan didunia, berdasarka skala al-Quran dan assunnah kalau itu muslim, atau kitab-kitab lainnya yang menjadi dasar dari agama masing-masing. Tidak berhenti disitu saja tetapi terdapat harapan diluar itu yang ini tidak akan bisa diukur dengan sekala apapun yang dibikin oleh manusia, yaitu sebuah prilaku yang didiskripsikan dari kebahagiaan dunia, seperti rasa syukur yang tinggi, keikhlasan, kesabaran, qana’ah dan survive dalam segala cobaan yang diberikan Tuhan kepada mereka. sedangkan di akherat adalah kebahgiaan yang didiskripsikan dengan prilaku eporia sebagai balasan dari prilaku di dunia. inilah puncak dari tujuan hidup manusia yang didapatkan dari peroses edukasi.

Edukasi dan aktualisasi sebanarnya dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Dan ini sebenarnya menurut Abraham Maslow menjadi kebutuhan tertinggi dari model kebutuhan yang dirumuskan dalam teorinya yang terkenal hirarci of needs. Kebutuhan dasar manusia menurut pandangan Maslow bertingkat, dari kebutuhan yang paling rendah yaitu kebutuhan jasmani, kebutuhan rasa aman, kebutuhan ingin dicintai dan rsa memiliki, kebutuhan harga diri, dan yang paling tinggi adalah kebutuhan beraktualisasi.

Edukasi adalah sumber yang menghasilkan prilaku yang kemudian  di aplikasikan dalam gerak kongkrit, dan bisa dinilai oleh orang lain berdasarkan pedoman formal yang berupa hukum dan juga kebisaan yang berupa adat. Disinilah aktualisasi dilakukan oleh seseoarng setelah menjalankan peroses edukasi, sehingga mendapatkan pengakuan dari orang lain sebagai sebuah kebutuhan harga diri yang juga dianggap penting.

Oleh karena itu edukasi dan aktualisasi harus kita budayakan menjadi konsep berpikir dan gerak, sehingga apapun yang dilakukan menjadi harapan diri sendiri dan orang lain, Dan orang lain akan menghargai karena kemampuan yang kita lakukan bukan semata karena hanya kita punya latarbelakang yang tidak ditopang dengan kompetensi yang bisa diukur dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

One thought on “EDUKASI DAN AKTUALISASI

  1. terima kasih, sebuah pencerahan yang luar biasa, semoga bermamafaat untuk ita semua, boleh di share kan pak?, trim..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s