BERUSAHA UNTUK LEBIH BAIK


Berusaha untuk selalu menjadi yang nomer satu, atau selalu menang dalam segala hal, atau selalu berharap dengan obsesif menjadi yang terbaik diluar potensi yang sebenarnya merupakan gejala abnormalitas yang harus diberikan treatment. Bila hal ini terjadi melampaui akal sehat dan kebiasaan normal kebanyakan orang, akan berbahaya bagi kehidupan seseorang dalam jangka tertentu, sebelum sikap dan pola prilaku dan berpikir yang dimiliki berubah. Ada orang menganggap hal ini adalah kejadian normal, yang terjadi kepada siapa saja, bahkan menganggap manusiawi karena membangun semangat juang dalam mencapai sesuatu.

Kembali kepada judul diatas, seakan mempunnyai pengertian sama dengan uraian tadi. Ada perbedaan yang subtansial dengan simton-simton obsesif yang sering muncul pada seseorang. Perbedaan tersebut terdapat pada peroses yang harus dilakuakan dan sikap mencapai sesuatu. Bagi orang yang normal secara psikologis peroses mendapatkan sesuatu adalah unsur utama dari hasil itu sendiri. Ini berbeda dengan orang yang mengalami obsesif hanya membayangkan nikmatnya, tetapi tidak mengusahakan hal itu terwujud.

Berusaha dengan sangat keras untuk mendapatkan sesuatu, lebih berharga secara psikologis, terlebih lagi tujuan yang hendak diraih tercapai. Orang yang berkarakter seperti ini adalah orang-orang yang mempunyai keprcayaan diri yang tinggi untuk berusaha terbaik. Terlapas apakah akan mendapatkan hasil atau bahkan sebaliknya.

Dalam mencapai sesuatu ada dua titik tekan yang sering mempengaruhi seseorang membentuk prilaku, yang pertama adalah titik tekan kepada peroses, yang kedua adalah titik tekan kepada tujuan. Kedua hal tersebut akan memebentuk stimulan terhadap cara pandang dan berpikir seseorang dalam melakukan sebuah usaha mencapai sesuatu.

Bagi yang memandang peroses lebih penting dari tujuan itu sendiri, seperti karakter diatas, adalah orang-orang yang dalam hidupnya sangat bersahaja, sederhana, tidak banyak tuntutan, dan mempunyai kepasrahan yang tinggi terhadap ketentuan Tuhan. Tipe ini cenderung lebih jarang mengalami gangguan setress, depresi, termasuk sangat jauh dari gangguan obsesif.

Bagi yang melihat tujuan adalah faktor utama yang harus dicapai dalam hidup ini, akan melihat peroses itu adalah sesuatu yang tidak harus sesuai dengan standar-satandar baku prilaku. baginya prilaku apapun akan dilakukan asal bisa mendorong, dan menstimulasi dirinya mencapai tujuan. Oleh karenanya konsep dirinya bisa berubah-ubah sesuai dengan kondisi terakhir yang melatar belaknginya. Baginya obsesi mencapai sesuatu sangat menggebu-gebu, kadang bahkan dianggab keluar dari prilaku kebanyakan orang lain. Pada tingkatan yang lebih jauh obsesinya mencapai tujuan akan berakibat buruk pada konsep diri dan prilakunya sehari-hari.

Manakah yang paling cocok untuk kita terapakan dalam kehidupan, diantara dua konsep tersebut diatas, menekankan peroses atau tujuan?. Tentu jawabannya adalah masing-msing keduanya bisa digunakan, tergantung kondisi dan ketahanan psikologis masing-masing, atau bisa saja menggabungkan keduanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s